< 1 >
Read!
In the Name of ALLAH, Who has created man from a clot (a piece of thick coagulated blood).
< 2 >
Al-Islami
In the Name of ALLAH, Who has created man from a clot (a piece of thick coagulated blood).
< 3 >
Al-Islami
In the Name of ALLAH, Who has created man from a clot (a piece of thick coagulated blood).
< 4 >
Al-Islami
In the Name of ALLAH, Who has created man from a clot (a piece of thick coagulated blood).

Monday, 19 August 2013

Jangan Berbicara Keras Seperti Keledai

Nasehat Lukman pada Anaknya (8), Jangan Berbicara Keras Seperti Keledai

Satu akhlak mulia lagi diajarkan oleh Lukman kepada anaknya ketika ia memberi wasiat padanya yaitu sikap tawadhu’ dan bagaimana beradab di hadapan manusia. Di antara yang dinasehatkan Lukman Al Hakim adalah mengenai adab berbicara, yaitu janganlah berbicara keras seperti keledai.

Allah Ta’ala berfirman,

وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ

“Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (QS. Lukman: 19).

Berjalanlah dengan Tawadhu’

Mengenai ayat,

وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ

“Dan sederhanalah kamu dalam berjalan”, yang dimaksud adalah berjalan dengan sikap pertengahan.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Berjalanlah dengan sikap pertengahan. Jangan terlalu lambat seperti orang malas. Jangan terlalu cepat seperti orang yang tergesa-gesa. Namun bersikaplah adil dan pertengahan dalam berjalan, antara cepat dan lambat.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 10: 58)

Ulama lain menerangkan yang dimaksud dengan perkataan Lukman adalah agar tidak bersikap sombong dan perintah untuk bersikap tawadhu’.

Syaikh As Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Yang dimaksud adalah berjalanlah dengan sikap tawadhu’ dan tenang. Janganlah bersikap sombong dan takabbur. Jangan pula berjalan seperti orang yang malas-malasan.” (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 648).

Keutamaan sifat tawadhu’ disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ

“Sedekah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba sifat pemaaf melainkan akan semakin memuliakan dirinya. Dan juga tidaklah seseorang memiliki sifat tawadhu’ (rendah diri) karena Allah melainkan Allah akan meninggikannya” (HR. Muslim no. 2588). Yang dimaksudkan di sini, Allah akan meninggikan derajatnya di dunia maupun di akhirat. Di dunia, orang akan menganggapnya mulia, Allah pun akan memuliakan dirinya di tengah-tengah manusia, dan kedudukannya akhirnya semakin mulia. Sedangkan di akhirat, Allah akan memberinya pahala dan meninggikan derajatnya karena sifat tawadhu’nya di dunia (Lihat Al Minhaj Syarh Shahih Muslim,  16: 142)

Ibnul Jauzi berkata, “Berjalanlah bersikap pertengahan. Janganlah berjalan dengan sikap sombong dan jangan terlalu cepat (tergesa-gesa). ‘Atho’ berkata, “Jalanlah dengan tenang dan jangan tergesa-gesa.” (Zaadul Masiir, 6: 323)

Beradab Ketika Berbicara

Selanjutnya Lukman mengajarkan pada anaknya mengenai adab dalam berbicara. Dalam ayat disebutkan,

وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ

“Dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”

Sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Katsir, maksud ayat ini, jangalah berbicara keras dalam hal yang tidak bermanfaat. Karena sejelek-jelek suara adalah suara keledai. Mujahid berkata, “Sejelek-jelek suara adalah suara keledai.” Jadi siapa yang berbicara dengan suara keras, ia mirip dengan keledai dalam hal mengeraskan suara. Dan suara seperti ini dibenci oleh Allah Ta’ala. Dinyatakan ada keserupaan menunjukkan akan keharaman bersuara keras dan tercelanya perbuatan semacam itu sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ لَنَا مَثَلُ السَّوْءِ ، الَّذِى يَعُودُ فِى هِبَتِهِ كَالْكَلْبِ يَرْجِعُ فِى قَيْئِهِ

“Tidak ada bagi kami permisalan yang jelek. Orang yang menarik kembali pemberiannya adalah seperti anjing yang menjilat kembali muntahannya”[1] (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 10: 58)

Syaikh As Sa’di rahimahullah berkata, “Seandainya mengeraskan suara dianggap ada faedah dan manfaat, tentu tidak dinyatakan secara khusus dengan suara keledai yang sudah diketahui jelek dan menunjukkan kelakuan orang bodoh.” (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 648).

Sungguh tanda tidak beradabnya seorang muslim jika ia berbicara dengan nada keras di hadapan orang tuanya sendiri, apalagi jika sampai membentak.

Mengenai suara keledai, kita diminta meminta perlindungan pada Allah ketika mendengarnya. Hal ini berbeda dengan suara ayam berkokok. Sebagaimana disebutkan dalam hadits,

إِذَا سَمِعْتُمْ صِيَاحَ الدِّيَكَةِ فَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ ، فَإِنَّهَا رَأَتْ مَلَكًا ، وَإِذَا سَمِعْتُمْ نَهِيقَ الْحِمَارِ فَتَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ ، فَإِنَّهُ رَأَى شَيْطَانًا

“Apabila kalian mendengar ayam jantan berkokok di waktu malam, maka mintalah anugrah kepada Allah, karena sesungguhnya ia melihat malaikat. Namun apabila engkau mendengar keledai meringkik di waktu malam, maka mintalah perlindungan kepada Allah dari gangguan syaithan, karena sesungguhnya ia telah melihat syaithan” (HR. Muslim no. 3303 dan Muslim no. 2729).

Tersisa Nasehat Lukman: Allah akan Senatiasa Menjaga Titipannya

Masih ada nasehat Lukman lainnya yang tidak disebutkan dalam surat Lukman.

Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan pada kami ‘Ali bin Ishaq, ia berkata, telah menceritakan pada kami Ibnul Mubarok, ia berkata, telah menceritakan pada kami Sufyan, ia berkata,  telah menceritakan padaku Nahsyal bin Majma’ Adh Dhobiy, ia berkata, dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنَّ لُقْمَانَ الْحَكِيمَ كَانَ يَقُولُ « إِنَّ اللَّهَ إِذَا اسْتُودِعَ شَيْئاً حَفِظَهُ »

“Lukman Al Hakim pernah berkata: Sesungguhnya Allah jika dititipkan sesuatu pada-Nya, pasti Dia akan menjaganya.” (HR. Ahmad 2: 87. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Jika hamba menitipkan keluarganya ketika safar, maka Allah akan senantiasa menjaga mereka. Sebagaimana yang diajarkan dalam do’a ketika safar,

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ وَدَّعَنِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ « أَسْتَوْدِعُكَ اللَّهَ الَّذِى لاَ تَضِيعُ وَدَائِعُهُ »

Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- ketika berpisah denganku, beliau berkata, “Astawdi’ukallahalladzi laa tadhi’u wadaa-i’uhu” (Aku menitipkan engkau pada Allah yang tidak mungkin menyia-nyiakan titipannya)” (HR. Ibnu Majah no. 2825. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Berakhir pula nasehat-nasehat Lukman Al Hakim yang bisa kita gali dari berbagai kitab tafsir dan penjelasan ulama yang ada. Moga dapat menjadi penyemangat kita dalam berakhlak mulia.

Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.

 

Referensi:

Tafsir Al Qur'an Al 'Azhim, Ibnu Katsir, terbitan Muassasah Qurthubah, cetakan pertama, 1421 H.

Taisir Al Karimir Rahman fii Tafsir Kalamil Manan, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, 1420 H.

Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, terbitan Al Maktab AIslami, cetakan ketiga, 1404 H

 

@ Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 13 Rajab 1433 H

Pelajaran dari Redaksi “SOAL-JAWAB” dalam Quran

Al-Quran diturunkan memuat petunjuk bagi seluruh umat manusia. Isi kandungannya dikomunikasikan oleh Alloh dengan berbagai macam variasi redaksional.  Ada yang berupa perintah, larangan, sumpah, perumpamaan, deskripsi peristiwa, Soal-Jawab, dan lain sebagainya. Hal ini pasti ada maksudnya, agar manusia mempelajari dan menghayati ayat demi ayat serta mengamalkannya dalam hidup keseharian.

Terkait dengan redasional “SOAL-JAWAB’, kita akan banyak menemukannya dalam al-quran. Cirinya adalah menggunakan kata YASALUUNAKA, yang artinya “Mereka bertanya kepadamu Muhammad”. Misalnya al-Baqoroh 219 (Mereka Bertanya kepadamu tentang khamar..), Al-Isra 85 (Dan meraka bertanya kepadamu tentang ruh), Al-Anfal 1 (Mereka menanyakan kepadamu tentang pembagian sisa rampasan perang), dll.

Bagaimana kita memahami redaksional ini dan pelajaran apa yang bisa kita ambil darinya?

Berdasarkan pemahaman para ahli tafsir, setidaknya ada dua kategori redaksional al-quran yang terkait dengan soal-jawab, yakni sebagai berikut:

Redaksional #1. Jawaban Yang Sesuai dengan Pertanyaan

Kategori ini memiliki karakteristik jawaban yang diberikan sesuai dengan keinginan penanya. Misalnya bisa kita jumpai dalam QS Al-Anfal 1.

“Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentan pembagian sisa rampasan perang. Katakanlah, “Harta rampasan perang itu milik Alloh dan Rosul…”

Sebab turunnya ayat ini adalah setelah kaum muslimin memenangkan peperangan, semua rampasan perang dibagikan oleh nabi Muhammad saw kepada para sahabat.  Setelah proses pembagian selesai ternyata masih ada sisa rampasan perang, dan para sahabat saling berebut untuk mengambilnya.

Para sahabat menyadari bahwa hal ini  sebuah kekeliruan, lalu mereka bertaubat dan datang menemui rosul meminta petunjuk / fatwa-nya.  Maka turunlah jawaban Alloh atas pertanyaan sahabat ini yakni, “Katakanlah anfal adalah milik Alloh dan rosul”, sehingga yang berhak membagikannya adalah Alloh melalui rosul-Nya.

Dari kisah ini kita bisa melihat bahwa jawaban yang diberikan Alloh memiliki korelasi langsung atau sesuai dengan keinginan para sahabat.

Redaksional #2. Jawaban Yang  Tidak Sesuai dengan Pertanyaan

Selain karakteristik di atas, ternyata ada redaksi TANYA-JAWAB dalam al-Quran yang jawabannya tidak sesuai dengan keinginan penanya. Contohnya bisa kita lihat dalam al-Baqoroh 189

‘Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang bulan sabit. Katakanlah, Itu adalah (petunjuk) waktu bagi manusia dan (ibadah) haji.”

Sebab turunnya ayat ini adalah para sahabat menanyakan tentang hal yang berhubungan dengan bulan. Mengapa penampakan bulan mulanya kecil (seperti bulan sabit), lalu seiring waktu membesar hingga tampak bulat penuh di saat bulan purnama. Lalu Alloh menjawab pertanyaan ini dengan jawaban yang tidak sesuai dengan keinginan pikiran sahabat. Alloh menjawab dengan hal yang lebih esensial dan substansial yakni mengkaitkan bulan dengan kerja dan ibadah, bukan semata pengetahuan.

Berdasarkan ayat ini, para ulama memberikan penafsiran, bahwa Islam adalah agama KERJA / AMAL. Sungguh al-Quran memberikan perhatian yang lebih terhadap sebuah  kinerja atau produktivitas. al-Quran tidak memberikan ruang terhadap sesuatu yang hanya berupa wacana atau rekreasi intelektual, tanpa ada hasil yang memberikan manfaat buat diri dan orang lain.

Begitulah dua karektetistik redaksional “SOAL-JAWAB” yang bisa kita pelajari. Dan beberapa pelajaran yang bisa kita ambil darinya adalah sebagai berikut:

SOAL-JAWAB merupakan salah satu strategi al Quran dalam menyampaikan petunjuk kepada manusia sehingga bisa menggunakannya
Pentingnya menyampaikan islam dengan kreatif , variatif, inovatif, dan dinamis  (tidak monoton)
Perlu memiliki semangat YASALUNAKA (Bertanya) saat menemui masalah dan kembali kepada al-Quran sebagai solusinya
Rekreasi intelektual yang tidak ada hubungannya dengan kerja sebaiknya dijauhi. Bertanyalah untuk diamalkan, bukan untuk mengetes atau menyudutkan golongan lain.
“Dikutip dari Pengajian malam Ahad, 14 April 2012, Mesjid Darussalam Kota Wisata, Narasumber :D R Ahzami Samiun Jazuli, www.nasehatislam.com“

Anak Ajaib dari Afrika, Usia 1.5 tahun Sudah Hapal al-Quran

Usia 1.5 tahun Sudah Hapal al-Quran, Padahal Terlahir dari Keluarga Kristen

Sebuah kenyataan yang membuktikan kekuasaan Alloh telah terjadi di kota kecil Arusha di Utara Tanzania Afrika Timur. Lahirnya seorang anak, bernama Syarifuddin Khalifah dalam usia 1.5 telah hapal al-Quran di luar kepala padahal terlahir dari keluarga Kristen Katolik. Bapaknya bernama  Francis Fundinkira sedang ibunya bernama Domisia Kimaro. Tidak hanya itu, anak ini dalam usia 1 bulan sudah bisa bicara, di usia 1.5 tahun bisa melaksanan sholat 5 waktu tanpa ada yang mengajarinya. Menguasai bahasa asing saat umur 5 tahun. Dan telah mengislamkan ribuan orang.

Kenyataan ini sungguh di luar logika. Namun, bagi seorang muslim. Inilah tanda kekuasaan Alloh. Alloh adalah Dzat yang maha Kuasa dan Berkehendak. Dan Islam adalah agama yang paling benar dan diridhoi oleh Alloh SWT.

Apa sajakah keajaiban yang terjadi yang membuktikan ke-Maha Kuasaan Alloh SWT itu?. Keajaiban itu adalah sebagai berikut:

Saat umur 1 bulan, ketika dibawa ibu dan ayahnya ke gereja untuk dibaptis beberapa meter sebelum sampai di gereja anak itu bisa bicara: “Ibu jangan baptis aku, aku adalah orang yang beriman kepada Alloh dan rosulnya yaitu Muhammad”.
Kata-kata anak ini benar-benar membuat bulu kunduk mereka merinding, mereka gemetar dan saling memandang dalam kebingungan dan tidak percaya apa yang didengarnya dari anak mereka ini. Saking gemetarnya berduapun kembali ke rumah dan tidak jadi membaptis anak mereka tersebut.

Ketika umur 2 bulan, bayi melarang ibunya untuk menyusuinya dengan cara bayi itu tidak mau disusui ibunya. Sampai-sampai konsultasi ke dokter spesialis anak ternyata anak tersebut dalam keadaan sehat walafiyat. Tapi mengapa tidak mau disusui.

Kalimat pertama yang diucapkan ketika 4 bulan, adalah QS Al-Baqoroh 54 “Maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu, dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi tuhan yang menjadikan kamu, maka Alloh akan menerima taubatmu. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”.

Dengan kalimat tersebut kedua orang tua dan semua yang hadir dari beberapa orang tetangga hanya bisa saling memandang dan takjub serta kebingungan. Mereka tidak faham bahasa yang diucapkan oleh bayi tersebut, karena bukan bahasa Inggris atau Kiswahili. Saking bingungnya dengan kondisi itu beberapa yang hadir ada yang mengatakan bahwa bayi itu karasukan setan / sejenis ruh jahat. Maka Domisia meminta suaminya untuk memanggil pendeta dari gereja terdekat untuk mendoakan anaknya yang menurut mereka sedang kerasukan setan/ruh hajat itu. Ternyata setelah pendeta itu datang, tidak sanggup mengusir setan dari tubuh anak kecil yang mungil itu.

Akhirnya, ada tetangga yang muslim, bernama  Abu Ayyub mencoba untuk datang dan membantu keluarga itu untuk mengusir setan/roh jahat itu. Ternyata ketika berhadapan dengan bayi itu, ia mengucapkan kalimat yang sama. Abu Ayyub tersungkur beberapa saat dengan sujud syukur, karena Alloh telah memberi kenikmatan dan keajaiban kepada hamba-Nya yang masih bayi itu bisa hafal ayat al-Quran dari kalangan non muslim dengan bacaan yang sangat fasih dan tartil.  Lalu Abu Ayyub berkata kepada Francis dan Domisia: “Anak kalian sesungguhnya tidak kerasukan setan/roh jahat. Apa yang dibacakan oleh anak kalian itu adalah ayat-ayat suci Alloh SWT”. Intinya, anak kalian mengajak kalian untuk bertaubat kepada Alloh, beriman kepada-Nya, melakukan shalat & ,menunaikan zakat sesuai perintah-Nya, niscaya Alloh akan mengampuni dosa-dosa kalian. Hanya itu yang bisa saya katakan. Yakinlah, anak kalian tidak kerasukan setan. Besok akan saya bawakan kita suci al-Quran agar kalian percaya bahwa yang diucapkan anak kalian adalah ayat suci Alloh SWT.

Setelah itu, Francis dan Domisia selalu merenung dan berfikir untuk menetukan sikap. Apakah segera masuk Islam, atau tetap pada agama dan keyakinan mereka. Walhasil, setelah proses berfikir dan menerung yang panjang, serta hidayah Alloh SWT, maka kedua orang tua bayi itu mempunyai keinginan untuk masuk Islam. Betapapun berat pergulatan batin yang dirasakan Francis dan Domisia, namun mereka meyakini bahwa harus ada keputusan terbaik yang harus mereka ambil secepatnya sebagai keputusan final dalam kehidupan mereka.

Kalimat-kalimat aneh yang dikatakan anaknya, kini berusaha mereka dengarkan dengan seksama. Kalimat yang mereka anggap karena kerasukan syetan itu ternyata begitu menyejukkan hati mereka. Kebenaran tidak akan pernah membuat orang sedih dan menderika. Kebenaran pasti akan mendekatkan orang dengan kebahagiaan dan ketenangan. Bagitulah yang dirasakan Francis dan Domisia. Setelah beberapa lama berdiskusi, merenung, dan merasakan berbagai macam hal, dengan keyakinan penuh dan tanpa ada paksaan dari siapapun, Francis dan Domisia mendatangi rumah Abu Ayyub yang pernah ke rumah mereka.

Sesampai di rumah Ayub mereka disambut laksana keluarga sendiri. Ayub merasa bahagia dengan kedatangan Francis dan Domisia. Sesudah mereka berbicara banyak hal mengenai Syarifudin, tiba-tiba Francis terdiam. Dia hendak mengatakan sesuatu, matanya menatap Ayub seraya berkata: “ Ustadz kami ingin memeluk agama Islam”. Maka Ayub dengan rasa haru, memandang Fransis dengan hingar bingar penuh kebahagiaan, seraya memeluk Francis erat-erat. Sesaat kemudian bertanya kepada Francis: ” Apakah kamu yakin memilih Islam sebagai agamamu, Alloh SWT sebagai Tuhanmu dan Nabi Muhammad SAW sebagai nabi dan rosulmu?. Dia jawab, “Ya, kamii yakin”.

Akhirnya Ayub mengajaknya dan istrinya untuk pergi ke mesjid terdekat, menemui imam mesjid Ust Nur Ismail. Dan setelah sholat Dhuhur dilakukan pengislaman untuk keduanya. Setelah keduanya membaca syahadat dan mengikuti tausyiah ustadz Nur Ismail, semua jamaah menyalami dan memeluk Francis seraya bertakbir. Allohu Akbar.

Setelah Fransis dan Domisia menjadi muslim, mereka benar-benar telah menjadikan kehidupan mereka bermakna ibadah dan penghambaan kepada Alloh. Mereka bukan hanya rajin beribadah tetapi juga bertawakal atas segala sesuatu yang diberikan Alloh kepada mereka. Keduanya semakin gigih dan semakin melaksanakan perintah agama Islam, sehingga menemukan kebenaran yang sesuai dengan hati nuraninya setelah melalui proses dari keajaiban putranya itu.

Begitulah kuasa Alloh SWT pada hamba-hambanya. Dia, maha berkehendak dan maha menjadikan segala kehendak-Nya. Tidak ada yang tidak mungkin bagi-Nya, karena Dia pencipta segala sesuatu. Umur 1.5 tahun Syarifudin sudah hafal al-Quran 30 Juz dengan fasih sebagaimana layaknya orang dewasa pada umumnya, subhannalloh. Keajaiban ini membuat banyak orang terkagum-kagum dan hampir hampir tidak percaya. Allohu Akbar.

Sebagai bahan perbandingan. Anak kecil berusia 5 tahun sudah hafal al-Quran dan faham maknanya. Namanya Muhammad Hussein Tabataba’i, ayahnya Muhammad Mahdi Tabataba’i dari negara Iran. Dia juga dikenal dengan julukan Doctor Cilik.

Dia (Husein) secara teratur tiap hari mengulang-ngulang pelajaran al-Quran yang diberikan kedua orang tuanya. Bahkan setelah berhasil menghafal al-Quran dia secara teratur membaca 1 halaman buku tafsir al-Quran. Dia terbimbing sejak masa kehamilan sampai dengan lahir secara intensif, maka wajar dia hafal dengan baik di saat usia 5 tahun, walau hal ini tidak semua orang bisa melakukannya.

Namun, untuk Syarifudin tidak seperti Hussein, dia tidak belajar dan tidak diajari karena orang tuanya beragama kristen di saat dia belum lahir dan sesudah lahir saat itu. Dan bahkan anehnya pula, dia tidak hanya hafal al-Quran 30 juz, tapi dia juga mampu menghafal Injil secara lengkap dengan baik.  Apa yang terjadi dengan Syarifuddin sungguh berbeda dengan yang terjadi pada Husein. Sebagian orang meyakini bahwa ilmu yang dimiliki Syarifuddin adalah ilmu Laduni (Ilmu yang merupakan anugerah dari Alloh SWT kepada hambanya yang dikehendaki-Nya tanpa melalui proses belajar).   Wallohu A’lam bishshowaab…

Dikutip dari Pengajian malam Minggu, 20 Oktober 2012, di mesjid Darussalam Kota Wisata. Narasumber : Ust Muhammad Anwar. Referensi buku: Mukjizat dari Afrika “Bocah yang Mengislamkan Ribuan Orang. Penerbit Zaytuna Kebagusan Ps Minggu Jakarta. www.nasehatislam.com

Ke Arah Memahami Al Qur’an

Jika orang belum pernah melakukan studi Al Qur’an sebelumnya, tetapi dengan latar belakang pembacaan terhadap buku-buku dengan beragam topik yang dibaca sebelumnya, akan terkejut ketika mendapatkan sistematika susunan Al Qur’an. Al Qur’an adalah buku yang unik dalam sistematika penyusunannya, berbeda dengan buku-buku pemikiran atau agama yang ditulis oleh manusia. Mendekati Al Qur’an dengan menganggapnya seperti buku biasa pada umumnya akan membuat kita gagal menemukan mutiaranya. Jika buku-buku pada umumnya berkisar pada pokok tema dan disusun secara sistematis ke dalam bab-bab yang spesifik membahas detail-detail tema itu, tidak demikian dengan Al Qur’an. Sepintas justru akan didapati topik-topik beragam yang tertebar di sana-sini, perpindahan dari satu topik ke topik yang lain secara cepat, perubahan modus pembicaraan yang juga berubah-ubah. Hal ini, jika kita tidak memahami kekhasan Al Qur’an, akan membuat kita justru menduga tidak adanya koherensi antara satu bagian dengan bagian lain dalam Al Qur’an. Demikan pula dengan gaya yang digunakan; pembicaraan mengenai substansi keyakinan keagamaan tidak megunakan model penalaran skolastik atau penalaran logika formal yang kering, aspek legalnya juga tidak disusun seperti sebuah kitab Undang-Undang, pembicaraannya mengenai pengetahuan alam tidak menggunakan model pembicaraan buku-buku Ilmu Pengetahuan. Dengan demikian perlulah dipahami bahwa Al Qur’an bukanlah buku-buku pemikiran ataupun doktrin keagamaan pada umumnya, ia memiliki keunikan dalam gaya maupun sistematikanya. Menganggapnya seperti buku-buku biasa justru akan menghalangi pemahaman mendasar kita atasnya.

Lalu bagaimanakah kita memahami subjek dan tema utamanya ? Bagaimana kita memahami sistematikanya ? Apa sasaran utamanya ? Aspek mendasar yang perlu dipahami sebelum menjawab pertanyaan itu adalah pertanyaan Siapa yang membuatnya ? Al Qur’an adalah wahyu yang diturunkan Tuhan kepada Rasul-Nya (Muhammad SAW). Kenyataan Al Qur’an yang bersumber Ilahiah inilah yang perlu ditegaskan sebelum kita memahami tema, subjek maupun sistematikanya. Posisi antara Tuhan, Rasul dan Wahyu-Nya dapat kita rekonstruksi melalui point-point berikut :

Tuhan telah menciptakan alam semesta, dan menciptakan manusia di bumi. Dia memberikan kepada manusia kapasitas untuk memahami (merenung dan berpikir), dengan kemampuan untuk membedakan yang baik dan buruk, dan dengan kebebasan untuk memilih.
Walaupun menikmati status demikian tinggi manusia harus memahami bahwa hanya Allah-lah Pencipta dan Penguasanya. Manusia hanya memiliki kekuasaan yang relative di hadapan Tuhan yang absolut. Kepada Allah manusia harus memberikan kepatuhan, ketaatan dan ibadahnya. Dalam konteks ini manusia diberikan kehidupan sementara di dunia, untuk kemudian mesti memberikan pertanggungjawaban kepada-Nya di akhirat.
Untuk melaksanakan misinya di dunia ini, Tuhan membekalinya dengan petunjuk, sehingga manusia memulai kehidupannya tidak dengan kebodohan dan kegelapan. Jalan petunjuk itu disebut sebagai Islam.
Melalui manusia pilihan (Rasul) Allah menurunkan petunjuk-Nya kepada manusia. Rasul-rasul telah diutus kepada manusia dalam setiap periode dan tanah yang berbeda-beda. Hingga pada akhirnya Allah mengutus Rasul-Nya yang terakhir (Muhammad) kepada seluruh umat manusia.
Melalui kenyataan ini kita bisa memahami bahwasanya subjek utama yang dituju oleh Al Qur’an adalah MANUSIA, yang kepadanya Qur’an berbicara mengenai yang mebuatnya sukses atau gagal dalam kehidupan ini. Tema utama kitab ini adalah memberikan petunjuk mengenai konsep-konsep mendasar dalam kehidupan manusia, bahwa konsep-konsep terkait Tuhan, Alam Semesta dan Manusia yang dikonsepsikan oleh pikiran manusiawi mereka pada hakikatnya bertentangan dengan kenyataan yang sesungguhnya; dan Al Qur’an memberikan konsep-konsep itu dalam terang realitas (hakikat) sesungguhnya. Sasaran utama dari kitab ini adalah mengajak manusia untuk menempuh jalan lurus, meneranginya dengan petunjuk dari-Nya.  Jika kita memahami ketiga aspek dasar ini, pahamlah kita bahwa Al Qur’an tidaklah akan menyimpang dari subjek, tema utama dan sasaran mendasar ini. Apa yang kita temukan di dalamnya pembicaraan mengenai doktrin, filosofi, kepercayaan, moralitas, ilmu pengetahuan, kisah, hukum legal, sejarah tidak semata-mata untuk membicarakan itu saja tetapi untuk memberikan petunjuk, merubah salah konsepsi dan menerangkan hakikat medasar dari realitas.


Terkait dengan sistematikanya. Perlulah dipahami bahwa AL Qur’an tidak diturunkan sekaligus. Al Qur’an merupakan fenomena kenabian. Dalam terang gerak kenabian dalam menyampaikan pesan-pesan Tuhan inilah kita perlu memahami aspek-aspek sistematikanya.

Pada awalnya Tuhan memilih Muhammad sebagai Rasul-Nya dan meminta Rasul itu menyampaikan pesan-pesan-Nya (berdakwah). Allah menurunkan kepadanya ayat-ayat yang berisi pengetahuan dasar yang diperlukan untuk melaksanakan tugas kerasulannya. Tiga tema pokok ayat-ayat pada periode ini :

Memberi pelajaran kepada Rasulullah bagaimana ia menyiapkan diri untuk misi besarnya dan bagaimana ia mesti memulainya.
Pengetahuan mendasar mengenai kebenaran dan sanggahan terhadap kesalahan konsepsi manusia tentang kebenaran itu.
Manusia diajak untuk mengadopsi jalan hidup yang tepat yang terkandung dalam petunjuk ilahi
Sesuai karakater misionalnya ayat-ayat pada tahap ini diungkapkan secara ringkas, mudah dimengerti, bahasa yang indah dan menarik, mampu menembus hati manusia, irama dan  melodinya mampu menarik perhatian. Warna lokal diungkapkan (mengenai kehidupan mereka sehari-hari) tetapi dengan tekanan nilai-nilai yang universal.

Selanjutnya (selama 4-5 tahun awal) dakwah terbentuklah reaksi berikut :

Sebagian manusia merespon dan mempercayai pesan yang disampaikan, dan tergabung dalam umat
Sebagian besar menolak baik karena ketidaktahuan atau egoism peribadi mereka atau chauvinisme mereka kepada keyakinan nenek moyang mereka
Dakwah Rasulullah baru terbatas di Makkah saja
Tahap kedua mulai terjadi pertarungan keras antara gerakan Islam dan jahiliyah Arab. Tidak sekedar Quraish menolak keyakinan Islam dan mempertahankan keyakinan yang mereka warisi tetapi mereka berusaha untuk menumpas dan menekan gerakan dakwah Rasulullah. Melalui propaganda palsu, mereka menyebarkan keraguan dan berita yang terdistorsi kepada umum. Mereka melakukan intimidasi, persekusi maupun boikot kepada kaum muslimin. Tetapi dakwah Islam tetap tumbuh dan berkembang. Di sisi lain, banyak tokoh-tokoh Quraish yang memeluk Islam, orang-orang yang berpengaruh besar dalam kehidupan mereka.

Dalam masa pertarungan ini pesan Al Qur’an banyak memberikan pesan yang membangkitkan ketabahan, meminta orang beriman untuk melakukan tugas dasar mereka, keluhuran akhlak, rasa persaudaraan, mengajar mereka tentang keimanan, janji kesuksesan di akhirat. Pada arah yang lain Qur’an mengecam keras penolakan orang-orang Quraish, mengancam mereka dengan tragedi pernah menimpa orang-orang terdahulu, bukti-bukti tauhid disampaikan, kelemahan syirik diungkapkan.

Tahap ketiga adalah tahap ketika kaum muslimin telah menegakkan kedaulatan Islam di Madinah. Pada periode ini Al Qur’an berbicara mengenai aspek keyakinan, dialog dengan komunitas lain, pembentukan komunitas Islam (ummah), hukum-hukum sosial politik. Pada periode ini pula Rasul mulai menyiapkan generasi untuk melanjutkan estafeta dakwah beliau.

Melalui pemahaman kita terhadap fase-fase perjuangan dakwah Rasulullah kita dapat memahami situasi di mana Al Qur’an memberikan bimbingannya secara nyata melalui peristiwa-peristiwa. Al Qur’an turun secara bertahap seiring dengan keperluan tahap-tahap dakwah yang dilalui gerakan Islam.  Dalam konteks ini Qur’an berbeda dengan buku-buku pemikiran (semacam disertasi doktoral) yang memiliki sistematika dan koherensi tersendiri. Lagi pula Al Qur’an tidak terpublikasi selayaknya sebuah risalah ilmiah tetapi tersebar secara lisan. Orasi Qur’an dengan demikian menyentuh baik akal maupun perasaan sekaligus. Dia merevolusi cara berpikir sekaligus menembus emosi. Pengulangan tema dalam Al Qur’an harus dipahami dalam konteks ini, karena urgensi tahapan turunnya. Meskipun demikian ekspresinya kita temukan dalam bentuk dan gaya yang berbeda-beda. Pada saat yang sama nilai-nilai keyakinan fundamental diberikan penekanan dalam setiap fase gerakan untuk menjadikannya selalu segar dalam pikiran.

Tetapi Al Qur’an tidak disusun berdasarkan secara kronologis, berdasar urutan turunnya. Penyusunan Al Qur’an sebagaimana kita saksikan sekarang, tentu saja berdasar wahyu, dilakukan sendiri oleh Rasulullah. Setelah misi mencapai kesuksesannya dan sebuah ummat terbentuk, umat memiliki karakteristik khasnya sendiri secara teoritis maupun praktis sekaligus ia mengemban tanggung jawab menyampaikan risalah kepada umat manusia sesudah Rasulullah. Sehingga bentuk susunan Al Qur’an tidak secara kronologis, tetapi tema-tema saling berbaur dalam satu surat, demikian pula yang Makkiyah dan Madaniyah. Hal ini memberikan perspektif yang integratif terhadap risalah Islam.

Langkah praktis untuk melakukan studi Al Qur’an dapat dilakukan dalam dua langkah dasar berikut pertama melakukan pembacaan secara menyeluruh dari awal hingga akhir untuk mendapatkan pemahaman global dan integral terhadapnya. Kedua melalui studi tematik terhadap permasalahan-permasalahan yang kita ingin cari solusinya dalam Al Qur’an. Perlu diingat pula bahwa apresiasi yang lengkap terhadap spirit Al Qur’an menghendaki keterlibatan praktis dalam perjuangan menegakkan misinya. Al Qur’an bukanlah buku yang berisi teori abstrak atau doktrin yang bisa dipahami sambil lalu di atas kursi santai; ia bukan buku keagamaan biasa tetapi adalah sebuah petunjuk, guide, dari sebuah misi, pesan dan gerakan. Dalam keterlibatan dalam menegakkan pesan-pesan Al Qur’an dalam realitas kehidupan ini kita akan menemukan sebuah pengalaman yang mirip pengalaman ‘mistik’, Maududi menyebutnya sebagai ‘Pengalaman Mistik Qur’ani. Dalam setiap tahapan perjuangannya, kita akan menemukan bimbingan ayat-ayat Al Qur’an di sana. Mungkin saja seseorang gagal menemukan atau memahami kedalaman gramatikal atau aspek retorik dan semantiknya; namun bagi mereka yang terlibat aktif dalam perjuangan menegakkannya tidak mungkin gagal menginspirasikan spirit kebenarannya kepada dia.

-Referensi

– Introduction, Towards Understanding The Qur’an. Abul A’la Al Maududi

– Dasar-Dasar Memahami Al Qur’an (Terj. Mabadi’ Assasiyyat Lifahmil Qur’an). Abul A’la Al Maududi. Fa. Al Muslimun. Bangil.

Apakah Doa dan Usaha Bisa Mengubah Takdir?

Terkadang kita mendengar suara keluhan seseorang bahwa saya sudah beribadah dengan sungguh-sungguh shalat, puasa, tapi tetap saja saya miskin, fakir, dan tidak memiliki apa-apa seperti halnya orang lain. Ah … mungkin inilah yang sudah ditakdirkan oleh Allah untuk saya. Dan mungkin Allah memang sudah menetapkan nasibku seperti ini.
Sebagaimana yang kita ketahui bersama, mempercayai qada dan qadar adalah rukun iman yang ke enam atau yang paling terakhir, hukumnya wajib dipercayai, diyakini dan diamalkan dengan sebenar-benarnya.
Namun qada dan qadar ini mendatangkan dua efek, kesan, dan pengaruh yang saling kontradiktif apabila seseorang tidak memahami dengan betul akan makna takdir ilahi. Kedua kesan ini adalah:
1) Kesan yang pertama, ummat Islam tidak pernah akan merasakan stress dalam hidup. hidupnya senantiasa dalam keadaan nyaman dan tenteram, serta terhindar dari sifat sifat mazmumah seperti, iri hati, dengki. Dan meskipun dia hidup dalam suasana persaingan, maka ia akan menjalani persaingan dengan cara yang sehat, sebab dalam hatinya segala apa yang menimpa dirinya sama halnya ia baik ataupun buruk, tetap akan diserahkan kepada Allah. Ini adalah kesan yang positif dari pada qada dan qadar.
2) Kesan yang kedua adalah, seseorang boleh saja dengan alasan takdir, ia akan mengatakan tidak usah berusaha bersusah payah, toh semuanya sudah ditentukan oleh Allah yang Maha Kuasa. Tidak perlu belajar dan tidak perlu bekerja keras. Ini tentunya kesan yang negative pada diri seorang mu’min. kemungkinan inilah yang membuatkan Nabi melarang para sahabat untuk mendalami masalah takdir, beliau berkata:
وَإِذَا ذَكَرَ (أَصْحَابِي) اَلْقَدْرَ فَأَمْسِكُوْا -الطبراني-.
"Jika sahabatku menyebut perkara takdir, maka hentikanlah mereka (membahas takdir)”
Ada dua hal yang perlu kita bicarakan mengenai takdir Allah, yaitu:
Pertama: Takdir merupakan rahasia Allah.
Oleh karena itu tak satupun manusia dalam dunia ini yang mampu mengetahui jangka nyawanya atau ajal kematiannya, di mana akan mati? (di kampung sendiri ataukah di luar kampung, di negara sendiri ataukah di luar negara), tatkala mati dalam keadaan apa?
Apakah kematiannya disebabkan oleh karena sakit, kecelakaan, atau mati biasa. Begitu juga halnya dengan rezki yang diperoleh, berapa banyak jumlahnya?. Bahkan Rasulullah Saw tidak sanggup menembusi hal-hal ghaib tersebut termasuk takdir ilahi. Disebutkan di dalam al-Qur’an:
قُل لاَّ أَقُولُ لَكُمْ عِندِي خَزَآئِنُ اللّهِ وَلا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلاَّ مَا يُوحَى إِلَيَّ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الأَعْمَى وَالْبَصِيرُ أَفَلاَ تَتَفَكَّرُونَ -الأنعام: 50-.
"Katakanlah:"Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku ini malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang telah diwahyukan kepadaku. Katakanlah:"Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat". Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)”.
Kerahasiaan ini ditegaskan dalam firman Allah:
وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لاَ يَعْلَمُهَا إِلاَّ هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلاَّ يَعْلَمُهَا وَلاَ حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأَرْضِ وَلاَ رَطْبٍ وَلاَ يَابِسٍ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ -الأنعام: 59-.
"Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melaimkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)."
Dalam masalah ajal kematian, Allah telah menegaskan dalam firmanNya:
إِنَّ اللَّهَ عِندَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَداً وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ -لقمان: 34-.
"Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim.Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok.Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.
Kedua: Perubahan Takdir.
Kalau saya katakan bahwa takdir boleh berubah, kemungkinan besar banyak yang tidak setuju dan merasa heran dan bertanya “kok takdir boleh berubah?” bukankah dalam riwayat penciptaan manusia, bahwa ketika masih dalam rahim ibu, tatkala usia kandungan telah mencapai umur 40 hari, Malaikat diperintahkan oleh Allah untuk menulis catatan. Di antaranya adalah mengenai ajal, rezeqi dan kehidupan baik dan buruk. Bukankah ini takdir Allah yang sudah ditetapkan dan akan di bawa dalam kehidupan seseorang sesuai dengan ketentuan-ketentuan tersebut?.
Untuk menjawab pertanyaan ini, ada baiknya kalau saya uraikan definisi Qada dan Qadar.
Qada bermaksud pelaksanaan, hasil, buah (realisasi), Adapun qadar bermaksud sukatan (anggaran). Namun dalam bahasa melayu kedua-duanya digabungkan menjadi satu yaitu istilah TAKDIR. Kemudian Takdir tersebut terbagi kepada dua bagian iaitu: Qada Mubram dan Qada Mu’allaq.
1) Qada Mubram: Adalah ketentuan Allah Taala yang pasti berlaku. Semua manusia pasti akan menghadapinya, ingin atau tidak, mahu atau tidak mahu, senang ataupun tidak, setiap orang pasti akan menjumpainya, sebab hal tersebut tidak dapat dihalang oleh sesuatu apa pun. Sebagai contohnya adalah perkara kematian. Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوَكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ -الأنبياء: 35 -.
"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan”.
Jadi masalah kematian merupakan perkara yang pasti dihadapi oleh setiap manusia. Karena ia merupakan suatu kepastian maka dinamakan sebagai Qada Mubram. Oleh karena itu Allah tegaskan jenis Qada ini dalam surah ar-Ra’ad, ayat: 11:
{وَإِذَا أَرَادَ اللّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلاَ مَرَدَّ لَهُ -الرعد:11-.
"Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia”.
Rasulpun pernah bersabdah tentang jenis Qada ini:
(إِنَّ رَبِّي قَالَ: يَا مُحَمَّدْ، إِنِّي إِذَا قَضَيْتُ قَضَاءً فَإِنَّهُ لاَ يُرَدُّ) -مسلم-
"Sesungguhnya Tuhanku berkata padaku: Wahai Muhammad! Sesungguhnya Aku kalau sudah menentukan sesuatu maka tiada seorangpun yang sanggup menolaknya”.
2) Qada Mu’allaq: Adalah takdir yang digantung atau bersyarat, dalam artian ketentuan tersebut boleh berlaku dan terjadi, dan boleh juga tidak terjadi pada diri seseorang, bahkan ia bergantung kepada usaha manusia itu sendiri, Qada ini yang telah disampaikan oleh Allah kepada Malaikat dan disimpan olehnya, jenis Qada ini telah ditegaskan oleh Allah ta’ala:
إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ -الرعد: 11-.
"Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”.
Ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa seseorang mampu merubah nasib dengan usaha sendiri, dan dengan izin Allah Swt. Oleh karena itu agama memberikan dua syarat utama untuk mengubah takdir, yaitu dengan cara memperbanyak doa dan menyambung silaturrahim.
Dalam kaitannya dengan perubahan umur manusia, para ulama berselisih faham tentang bolehkan berubah atau tidak?, bolehkan dipanjangkan atau dikurangkan?. Hal ini disebabkan oleh adanya sumber hukum yang secara zahir dari al-Qur’an yang menyatakan dengan jelas bahwa umur seseorang tidak akan ditambah ataupun dikurangkan, yaitu firman Allah:
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاء أَجَلُهُمْ لاَ يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلاَ يَسْتَقْدِمُونَ -الأعراف: 34-.
"Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu (kematian); maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya”.
Di samping ayat tersebut, terdapat juga hadits yang secara zahir menjelaskan bahwa doa dan silaturrahim dapat memanjangkan umur seseorang, dan mampu melapangkan rezqinya. Hadits tesebut adalah
(لاَ يَرُدُّ الْقَضَاءَ إِلاَّ الدُّعَاءُ، وَلاَ يُزِيْدُ فِى الْعُمْرِ إِلاَّ الْبِرُّ) -الترمذي-
"Tidak ada yang mampu menolak takdir Allah kecuali doa”.
Oleh karena itu, doa’ dalam Islam sangat digalakkan dan Allah menjanjikan akan menerima doa seseorang mukmin yang betul-betul mengharap diterima doanya, firman Allah:
(وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ) -المؤمنون: 60-.
"Dan Tuhanmu berfirman, “Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu..” (QS Al-Mu’min 60).
Ayat ini dapat dipahami lebih mendalam bahwa doa disyariatkan dalam Islam pada dasarnya untuk merubah nasib seseorang, sebab apalah gunanya seseoarang berdoa kalau ia tidak mengharap perubahan dari Allah. Baik perubahan umur dengan dipanjangkan umurnya, atau mengharap rezki dengan meminta ditambahkan rezkinya.
(مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأُ لَهُ فِي أَثْرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ) -البخاري-
"Siapa saja yang ingin dimudahkan rezqinya, dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah menyambung silaturrahim”.
Kalau dicermati dan direnungkan, memang Allah dalam kenyataan ayat 34 pada surah al-A’raf di atas tidak akan merubah ajal seseorang, tapi perlu diketahui takdir yang dibagi kepada setiap insan itu bukan hanya satu takdir, melainkan ada beberapa takdir.
Contohnya, Allah menentukan ajal si fulan untuk hidup selama 60 tahun, di samping itu juga Allah bagi takdir lain untuk hidup sampai 70 tahun lamanya. Dalam artian sesuai dengan hadis di atas kalau si fulan menyambung silaturrahmi maka takdir kedua akan ia capai, tapi kalau tidak maka ia akan dibagi takdir yang pertama, yaitu akan hidup hanya sampai 60 tahun saja.
Pendapat ini telah ditegaskan oleh Ibnu Qutaibah dalam kitabnya “Ta’wil Mukhtalaf al-Hadits”, beliau menjelaskan bahwa “Ta’jil” memiliki dua makna: pertama: Kehidupan yang lapang, kemudahan rezqi dan sehat jasmani. Kedua: Penambahan umur, di mana Allah Swt mentakdirkan seseorang dengan dua takdir umur, yaitu 100 dan 80, jika seseorang menyambung silaturrahim maka ia akan mencapai 100 tahun umurnya, namun jika tidak maka ia hanya akan dapat umur 80 tahun.
Hal serupa dinyatakan oleh Ibnu Hajar dalam kitab “Fathu al-Baari”, beliau menerangkan bahwa sesungguhnya hadits dan ayat “Ta’jil” boleh digabungkan bersama, yaitu dengan memahaminya kepada dua bahagian. Yang pertama: Maksud penambahan adalah Allah menambahkan keberkatan hidup bagi seorang mu’min yang menjalin silaturrahim. Yang kedua: Hakikatnya adalah penambahan umur, di mana seseorang yang menjalin dan menyambung silaturrahim akan ditambahkan umurnya secara angka.
Beliaupun memberikan contoh umur, misalnya, umur seseorang ditentukan Allah antara enam puluh tahun dan seratus tahun, takdir pertama (enam puluh tahun) dinamakan sebagai Qadha Mubram, sementara umur seratus tahun adalah Qadha Mu’allaq. Namun penambahan di sini adalah sesuai dengan ilmu Malaikat dan pengetahuannya, bukan ilmu Allah. Dalam hal ini Ibnu Hajar memilih penafsiran pertama yaitu menerjemahkan penambahan umur sebagai bentuk keberkatan hidup.
Pada permasalahan lain, misalnya penyakit, dalam satu riwayat disebutkan bahwa, penyakit dan obat merupakan takdir ilahi.
يَا رَسُوْلَ اللهِ أَرَأَيْتَ رِقًى نَسْتَرْقِيْهَا وَدَوَاءٌ نَتَدَاوَى بِهِ وَتُقَاةٍ نَتَّقِيْهَا، هَلْ تَرُدٌّ مِنْ قَدْرِ اللهِ شَيْئًا ؟ قَالَ: هِيَ مِنْ قَدْرِ اللهِ -الترمذي-.
“Ya Rasulallah bagaimana pandangan engkau terhadap Ruqyah-ruqyah yang kami gunakan untuk jampi, obat-obatan yang kami gunakan untuk mengobati penyakit, perlindungan-perlindungan yang kami gunakan untuk menghindari dari sesuatu, apakah itu semua bisa menolak takdir ALLAH ?Jawab Rasulullah saw : Semua itu adalah (juga) takdir ALLAH”.
Satu riwayat juga disebutkan bahwa tatkala Umar bin Khattab dan rombongannya melakukan perjalanan ke suatu tempat di Syiria, dan beliau tiba-tiba dikabarkan bahwa tempat yang dituju sedang dilanda penyakit wabak, (penyakit menular), kemudian Umar bermusyawarah dengan rombongan untuk mencari jalan keluar (way out ), lantas Umar dan rombongan sepakat untuk membatalkan perjalanan tersebut dan kembali ke Madinah, kemudian salah seorang sahabat yang bernama Abu Ubaidah tiba-tiba memprotes keputusan Umar yang tidak ingin melanjutkan perjalanan:
فَقَالَ أَبُو عُبَيْدَة بْن الْجَرَّاحِ: أَفِرَارًا مِنْ قَدَرِ اللَّهِ؟ فَقَالَ عُمَرُ: "لَوْ غَيْرُكَ قَالَهَا يَا أَبَا عُبَيْدَةَ – وَكَانَ عُمَرُ يَكْرَهُ خِلاَفَهُ – نَعَمْ نَفِرُّ مِنْ قَدَرِ اللَّهِ إِلَى قَدَرِ اللَّهِ".
Abu Ubaidah bin al-jarrah berkata““Apakah kita hendak lari menghindari taqdir Allah?” Umar menjawab: “Benar, kita menghindari suatu taqdir Allah dan menuju taqdir Allah yang lain”.
Hadits ini memberikan gambaran jelas bahwa takdir itu bukan hanya satu melainkan berbilang.
Untuk mengakhiri bahasan ini saya sebutkan suatu kisah, di mana pada suatu hari malaikat Izra`il, malaikat pencabut nyawa, memberi kabar kepada Nabi Daud a.s., bahwa si Fulan minggu depan akan dicabut nyawanya. Namun ternyata setelah sampai satu minggu nyawa si Fulan belum juga mati, sehinggalah Nabi Daud bertanya, mengapa si Fulan belum mati-mati juga, sementara engkau katakan minggu lepas bahwa minggu depan kamu akan mencabut nyawanya.
Izra`il menjawab, "ya betul saya berjanji akan mencabut nyawanya, tapi ketika sampai masa pencabutan nyawa, Allah memberi perintah kepadaku untuk menangguhkannya dan membiarkan ia hidup lagi untuk 20 tahun mendatang, Nabi Daud bertanya, mengapa demikian?, Jawab Izra`il: orang tersebut sangat aktif menyambung silaturrahim sesama saudaranya. Karena itu Allah memberikan tambahan umur selama 20 tahun kepadanya.
Jadi sebagai kesimpulan, semua peristiwa, kejadian dan keadaan yang telah dan yang akan kita hadapi, semuanya di dalam pengetahuan dan pengamatan serta kekuasaan Allah, yang tidak terbelenggu, tidak diikat dan tidak dibatasi oleh masa.
Takdir ada yang boleh berubah dan ada yang tidak akan berubah, yang boleh berubah dikenal dengan istilah Qada Mu’allaq, yaitu takdir yang bergantung dan bersayarat, sementara takdir yang tidak akan berubah dinamakan sebagai Qada Mubram, yaitu takdir yang pasti berlaku pada diri seseorang.
Adapun langkah untuk merubah takdir (nasib) yang mu’allaq adalah sebagai berikut:
1) Berusaha, yaitu dengan melakukan aksi terhadap apa saja yang diinginkan terjadi perubahan atasnya.
2) Berdo’a, yaitu memanjatkan harapan kepada Allah terhadap maksud yang diinginkan diqabulkan olehNya.
3) Tawakkal, yaitu menunggu keputusan, hasil daripada usaha dan doa yang diminta.
Setelah hal di atas dilakukan, maka kita tinggal menunggu ketentuan Allah yang disebut dengan (takdir). Dan untuk menambahkan keyakinan kita terhadap perubahan takdir mu’allaq, ada baiknya kita renungi bersama ayat di bawah ini:
يَمْحُو اللّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِندَهُ أُمُّ الْكِتَابِ -الرعد: 39-
"Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan disisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh)”.
Semoga dalam bulan ramadhan ini, segala amal dan doa yang kita panjatkan kepada Allah Swt, boleh menurunkan qada mu’allaq yang Allah sudah sediakan kepada kita semuanya. Amin.
DR. Kamaluddin Nurdin Marjuni
BA (AL-AZHAR). M.PHIL & PH.D (CAIRO)
Senior Lecturer Department of Islamic Theology & Religion
ISLAMIC SCIENCE UNIVERSITY OF MALAYSIA
(Blog Dr. Kamaluddin http://dr-kamaluddin-nurdin.blogspot.com/)

Copyright @ 2013 Pintar Quran.